Buku ini lahir lahir dari sebuah program pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan pesantren pada bulan rentang bulan November – Desember 2024. Ia berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap beberapa kasus kekerasan yang terjadi di pesantren beberapa tahun belakangan. Program tersebut dilaksanakan karena dirasa penting untuk segera berbenah melakukan upaya pengobatan terhadap beberapa kasus kekerasan dan perundungan demi membersihkan pesantren dari unsur-unsur disharmoni yang mencederai nama baiknya.
Kalimat saling menghormati disana merujuk pada keharusan untuk membangun kesadaran tentang kesetaraan dan solidaritas sosial diantara para santri sebagai syarat mutlak hadirnya kondisi harmonis Di sisi lain, program tersebut dilaksanakan untuk menanggulangi krisis nilai yang
mengikis tradisi asli pesantren yang menekankan pentingnya sikap kesetaraan dan solidaritas sosial diantara para santridalam pesantren.
MENGGAGAS KESETARAAN DAN SOLIDARITAS DI PESANTREN: Sebuah Usaha untuk Mencegah Tindak Kekerasan dan Perundungan Antar Santri dalam Pesantren
Rp65.000
Kita dikejutkan oleh berbagai kasus kekerasan dan perundungan di pesantren yang merebak beberapa tahun belakangan. Kasus ini melibatkan berbagai faktor yang hingga kini masih menarik untuk
menjadi topik penelitian, Faktor paling menonjol yang ditengara adalah kesenjangan karena perbedaan status sosial dan aspek senioritas yang membuat beberapa santri merasa dirinya lebih superior daripasda yang lain. Disini, sikap kesetaraan (egaliterianisme) dan solidaritas memudar
seiring dengan perubahan zaman.Padahal, kesetaraan dan solidaritas sosial adalah nilai-nilai asli pesantren yang diserap dari ajaran inti agama Islam. la menegaskan bahwa tidak ada manusia yang paling mulia di muka bumi kecuali berdasarkan takwanya dan bahwa sesama orang beriman harus saling tolong menolong.
Buku ini mencoba untuk mengubah persepsi dan sikap kalangan pesantren terhadap hadirnya kesenjangan yang menjadi rahim bagi lahirnya tindak kekerasan dan perundungan. Buku ini mencoba
mendukung usaha untuk membangun pendidikan keagamaan yang kental akan nilai solidaritas, yang meliputi empati, toleransi, dan pengendalian diri. la berusaha membangun artsitektur pendidikan pesantren yang dapat mendukung pembinaan karakter egalitarian dan penuh tenggang rasa guna antar santri guna memperkuat sikap kesetaraan dan solidaritas sosial diantara penghuni pesantren dan sekaligus meningkatkan resiliensi para santri terhadap konflik.
Sikap egaliter dan solidaritas sosial merupakan kebutuhan setiap masyarakat atau kelompok sosial demi terciptannya harmoni ditengah suatu komunitas, termasuk dalam hal ini komunitas pesantren. Sikap egaliter dan dan solidaritas sosial yang kuat dapat menghasilkan kesatuan, persahabatan, rasa saling percaya, dan kepentingan bersama diantara para anggotanya. Dalam konteks ini, tak dapat diingkari bahwa pesantren sesungguhnya telah memiliki nilai-nilai ini dalam sisten
pendidikannya sejak ratusan tahun yang lalu.
Reviews
There are no reviews yet.