Ludruk Junior” Jadi Ruang Baru Pelestarian Budaya Sejak Dini

Mojokerto, 2 April 2026 — Yayasan Giri Prapanca Loka kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal melalui diskusi bertajuk “Bincang Kamis Sore: Ludruk Junior Chapter 1”, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini digelar pukul 15.30 WIB di Kopi Rakyat, belakang Universitas Islam Majapahit (UNIM), dan terbuka untuk umum.

Diskusi menghadirkan Taufiq Hidayat sebagai pemateri dan Yuwafa Faurelio sebagai moderator. Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, kegiatan ini juga disiarkan melalui kanal YouTube.

Forum ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap kesenian ludruk—warisan budaya khas Jawa Timur yang belakangan kian tergerus arus modernisasi. Konsep “ludruk junior” diperkenalkan sebagai pendekatan baru yang lebih relevan bagi generasi muda, dengan harapan mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini.

Ketua Yayasan Giri Prapanca Loka, Dr. Syihabul Irfan, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa ludruk tidak sekadar hiburan, melainkan juga sarana edukasi kultural. Menurutnya, setiap pertunjukan ludruk memuat pesan moral, refleksi sosial, dan nilai-nilai kehidupan.

“Kami memandang ludruk sebagai media pendidikan kultural yang efektif, khususnya bagi Generasi Z. Melalui forum seperti ini, kami ingin membuka ruang dialog sekaligus membangun kesadaran generasi muda agar lebih dekat dengan budayanya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Pembina Yayasan Giri Prapanca Loka, Dr. Deni Mustopa, M.Pd., yang juga anggota Bawaslu Kabupaten Mojokerto. Ia menekankan bahwa keberlanjutan budaya sangat bergantung pada peran aktif generasi muda.

“Pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab seniman. Diperlukan sinergi antara komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat agar budaya lokal tetap hidup dan berkembang,” katanya.

Dalam sesi pemaparan, Taufiq Hidayat mengulas dinamika ludruk di era modern. Sebagai pelaku ludruk junior, ia menilai kesenian ini memiliki kemampuan beradaptasi, baik dari segi bahasa, penyajian, maupun tema. Namun, ia mengingatkan agar inovasi tidak menghilangkan nilai-nilai dasar ludruk.

“Kita harus menjaga akar budaya. Melalui ludruk junior, nilai itu bisa ditanamkan sejak dini,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kreatif dalam menjangkau generasi muda, antara lain dengan melibatkan mereka secara langsung dalam proses produksi—mulai dari bermain peran hingga menulis naskah.

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, pegiat seni, dan masyarakat umum aktif mengemukakan pertanyaan serta berbagi pengalaman. Sejumlah isu yang mengemuka antara lain tantangan memperkenalkan ludruk di era digital dan strategi membangun komunitas seni tradisional.

Kehadiran platform YouTube dinilai menjadi nilai tambah, karena memperluas jangkauan audiens sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat yang tidak hadir secara langsung.

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang refleksi kolektif tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman. Yayasan Giri Prapanca Loka berharap program serupa dapat terus berlanjut sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas.

Sebagai penutup, penyelenggara menegaskan komitmennya untuk menjadikan “Bincang Kamis Sore” sebagai agenda rutin. Dengan mengangkat tema-tema kebudayaan yang relevan, forum ini diharapkan mampu menjadi ruang inspiratif bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *